Rabu, 11 Maret 2015

0 comment :)
" Wahai perasaan, kalian jangan baper, nanti bisa sakit sama laper sendiri - tertanda dwi "

Rabu, 10 September 2014

Kami, Dia, Kita, dan Kami lainnya

0 comment :)
    Di kota ini saya sendiri dan juga merasa sepi. Aneh memang rasa sepi selalu bersama saya. Dahulu, tidak ada kata saya, tetapi kami. Kami yang dahulu sering bercanda di kala waktu luang, makan bersama, gosip, bahkan berbicara hal-hal yang tidak penting kami bicarakan. Kami memang berbeda satu dengan yang lainnya. Tujuan kami berbeda-beda. Kami berbicara dan berpikir (yang baik ataupun buruk) dengan mata, imajinasi, khayalan, kenyataan yang terjadi, yang terdengar, dan dari tulisan-tulisan yang kami buat, itu adalah kami. Kalian tahu, saya yang dahulu tidak terasa sepi. Saya menyukai cara berpikir yang seperti itu, karena itu mungkin tuhan menyatukan kami.

    Saya masih saja melihat kota ini. Kota yang ramai, rasa sungkan masih ada, dan mungkin berhati baik. Hah !! kota ini terlalu baik sama saya. Kota ini mengubah saya menjadi kami, tetapi itu dahulu. Kalian tahu, waktu akan terus maju, tidak ada waktu akan mundur. Jika ada, saya tidak akan kesepian. Saya akan memutar waktu di kala kami bersama. Sudah itu saja yang saya minta. Sudah cukup di kota ini. Kami mulai terpecah. Sudah ada istilah mereka berdua, bertiga, berempat, berseterusnya. Saya mulai menyadari kota ini akan merasa sepi. Itu kenyataan karena saya mata, imajinasi, khayalan, kenyataan yang terjadi, yang terdengar, dan dari tulisan-tulisan yang dahulu mereka buat. Kalian tahu, ini namanya resiko waktu yang tidak bisa mundur.

    Mereka sudah mempunyai kehidupan sendiri-sendiri. Sekarang tinggal saya. Saya mencari tempat yang mengenal kata kami. Iya, saya hanya menginginkan kata kami ada lagi di kota ini. Susah mencari, jelas saja. Hah !! saya sudah lelah mencari dan berharap ada kami selanjutnya. Dengan mata, imajinasi, khayalan, kenyataan yang terjadi, yang terdengar, dan dari tulisan-tulisan yangsaya buat, saya memahami bahwa akan ada saya yang lain datang maupun pergi. Di kota ini saya sudah tidak mempedulikan apapun. Ramai memang ramai, jika kalian melihat jalan yang remang-remang itu akan ada pasangan yang sedang bercumbu mesra. Apabila kalian melihat ke sisi lainnya kalian akan melihat hawa yang berpakaian tertutup, tetapi ketat di bagian dadanya. Peduli apa saya dengan hal-hal itu. Saya di sini tetap saja saya. 

   Dia, saya menemukan dia. Saya tidak tahu kapan bertemu dengan dia. Dengan mata, imajinasi, khayalan, kenyataan yang terjadi, yang terdengar, dan dari tulisan-tulisan yang sudah saya pahami, saya mencoba mempelajari dan memahami dia. Kemudian tidak ada lagi kata saya maupun dia, tetapi Kita. Terlalu banyak tentang kita yang tidak bisa saya ceritakan. Sedih, senang, kecewa, bahagia, curiga, tertawa ataupun dengan istilah-istilah lainnya. Saya terlalu lelah membicarakan kita. Kita kita kita, ah lupakan. nanti saya akan terdiam sedih di kota ini jika membahas tentang kita. Kalian tega, jika saya terlarut dalam sedih karena sedih, sedih karena terabaikan, sedih karena berpikir..... ya kalian tahu. Mungkin dia tahu lanjutan kalimat saya.

    Kota ini semakin tambah ramai, tetapi saya semakin merasa sepi. Kalian tahu, kejiwaan saya bisa tidak waras apabila seperti ini terus. Saya menemukan kami lainnya. Kami yang sekarang berbeda dengan kami yang dahulu. Di pertemukan karena satu pemikiran. Tujuan kami sama. Saya senang, walaupun terkadang terjadi konflik antar kami. Dengan mata, imajinasi, khayalan, kenyataan yang terjadi, yang terdengar, dan dari tulisan-tulisan yang mengajarkan saya, kami yang sekarang terasa hangat, tetapi saya kadang merasa sepi. Yah, kota ini memang luar biasa. Kota yang mempertemukan kami, mereka, dia, kita, dan kami lainnya. Saya sudah mulai lelah berdiri di depan halte ini. Pasangan yang di jalan reman-remang itu sudah tidak ada lagi. Saya tidak akan memikirkan macam-macam mengenai kita maupun dia yang mendekati kita. AH !! sudahlah, sudah waktunya pulang. Sudah waktunya  mata, imajinasi, khayalan, kenyataan yang terjadi, yang terdengar, dan dari tulisan-tulisan ada harus istirahat. 









Mungkin, saya sayang dengan kalian semua
(kami dahulu, dia yang menjadi kita, dan kami lainnya)


   
  
  

Sabtu, 16 Agustus 2014

Saya dan Wanita Dalam Cermin

0 comment :)
  Siang ini seperti biasa saya menatap layar handphone. Menunggu dan menanti pesan yang tak kunjung datang. Hari ini tepat seminggu saya menanti. Cermin itu menatap saya. Wanita dalam cermin menatap saya dengan tatapan yang menyedihkan. Terlihat gelisah. Muram dan berwajah sendu. Jika kalian menatap matanya, kalian akan merasakan rasa sedih yang dia rasakan. Air matanya sudah kering. Tatapan matanya begitu kosong. Saya hanya tersenyum melihat wanita dalam cermin tersebut. 

   Layar handphone saya masih tidak ada tanda-tanda bahwa pesan tersebut akan datang. Tangan ini ingin mengirimkan suatu pesan ke seseorang, tetapi saya mengurungkan niat tersebut. Pasti menganggu. Saya tidak ingin menganggu. Apabila saya mengirimkan pesan tersebut saya berarti mengganggunya. Saya melihat kembali wanita dalam cermin tersebut. Wanita itu masih terdiam dengan wajah sendunya. Sesekali wanita tersebut melihat ke arah saya. Ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak terlalu terdengar.

    Kamar ini dingin sama halnya dengan handphone ini. AH !! sial, hati ini mulai gundah kembali. Masih menunggu dan menanti pesan yang tidak kunjung datang. Saya menatap cermin itu, kini saya sejajar dengan wanita dalam cermin itu. Wajah kami kini berdekatan, Wajah saya dan wanita dalam cermin kini terlihat sama. Terlihat sendu dengan tatapan kosong. Saya dan wanita dalam cermin melihat ke arah handphone. Kini, layar handphone tersebut tertera nama seseorang. Namun, pesan yang saya nanti tidak kunjung datang. Wanita dalam cermin dan saya memberanikan diri untuk mengetikan sesuatu di layar handphone.

Hai sayang, aku rindu. Andai dengan tulisan rindu dapat mengobati rasa rindu, aku akan tuliskan kata rindu kepadamu tiap hari di saat, rasa rindu itu sedang merengek.

  Ingin tulisan itu saya kirim  ke seseorang itu, tetapi wanita dalam cermin mencegah keinginan saya. Dalam kamar ini, saya masih terdiam bersama dengan wanita di dalam cermin itu.

Jumat, 06 Juni 2014

Tentang Seseorang

0 comment :)
   Sudah pukul 00.00, ini sudah berganti hari. Aku masih terjaga di kamar ini. Hanya lamunan yang setia menemani pergantian hari bersamaku. Aku terdiam melihat kamar ku yang nampak berantakan. Ku tatap ruangan yang tidak terlalu besar ini dengan perlahan-lahan. Kalian tahu, saat itu lamunan sedang bersamaku. Mata ini mulai tidak fokus melihat benda-benda di ruangan itu. Aku, melihat lamunan tersenyum. Dia mengulurkan tangannya dan mengajak diri ku untuk melihat semua hal yang terjadi di kamar itu.

  Aku masih terdiam dan terus menggenggam lamunan. Dia menunjuk ke satu objek. Yah !! aku melihat diriku bersanding dengan seorang pria. Umurnya tidak jauh dari umurku. Dalam objek itu, aku tersenyum dan dia tersenyum. Sepertinya kami sadar, bahwa kami dalam objek itu terlihat bahagia dan saling memiliki. Lamunan kemudian mengajak ku untuk mengambil suatu benda. Sial !! ternyata dia memberikan handphone ku yang selalu setia menemani hari-hari ku. Lamunan memberikan kode untuk membuka setiap program yang ada di handphone. Aku menangis. Sangat iba dengan apa yang terjadi. Aku melihat di handphone itu, seseorang terlalu berusaha dan yang lainnya hanya menanggapi sekadarnya. Mencoba memaklumi bahkan mengerti, tetapi yang lainnya masih saja kurang peduli.

   Jika aku melihat ke barat, aku dapat melihat boneka babi dan boneka kelinci yang terbuat dari kertas. Terkadang, aku melihat seseorang tersebut menatap ke boneka tersebut. Hanya berharap, hidupnya akan selalu bahagia dengan seseorang lainnya yang dia sayang. Lamunan membawa ku ke suatu tempat. Aku melihat seseorang tersebut bertemu dengan temannya. Mereka berbincang-bincang kemudian tertawa. Namun, seseorang itu sepertinya menceritakan sesuatu, mukanya sedih, menunggu sesuatu, berharap yang lebih peka, dan sedikit di perhatikan. Namun, dia hanya tersenyum simpul karena itu hanya harapan.

   Lamunan menepuk bahuku, aku hanya melihat seseorang itu sangat sedih tetapi tidak terlihat di wajahnya. Seseorang itu tersenyum dan mencoba memahami keadaannya. Seseorang itu menghela napas, berusaha untuk mengerti dengan semua hal itu. Aku, melihat seseorang itu berkata dengan lirih;

 Mungkin, kita sedang menikmati dunianya masing-masing, sehingga terlihat canggung saat bertemu dan (mungkin) sedikit tidak peka dengan satu sama lain.  
Asa ku ingin seperti ini, tetapi pada kenyataannya asa hanyalah asa. 

    Lamunan menepuk bahu ku lagi saat aku mendengar perkataan seseorang itu. Aku terdiam. Lamunan sepertinya mengajak diriku untuk kembali ke alam sadar. Bayangang seseorang itu memudar. Seperti kaset film, aku di kembalikan ke tempat semula. Di kamar dan terjaga. Pukul 00.00 sudah berganti menjadi 01.46. Aku tidak ingin memikirkan kata-kata seseorang itu, tetapi kata-kata itu terus saja teringat di pikiranku.

  *****




 

Amateur Writer Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template